Hi everyone! I know I've been MIA for couple of weeks. I've been busy with things. Sorry huhuhu x_x. November udah abis banget nih? Cepet banget sihhhh. 2017 tinggal hitungan hari banget? Yaampuuun. Tapi gapapa, minimal, perjuangan setahun belakangan ini terbayar sudah, meski belum sah lunas, tapi yang penting udah terbayar. Alhamdulillah. Jadi, perjuangan apa yang saya hadapi sebulan ini? Here's the story...

1. (Un)officialy Sarjana Psikologi

16 November 2016, sekitar pukul 9 pagi Alhamdulilah saya sudah dinyatakan lulus dan bergelar S. Psi (meski belum resmi). Ya, setelah drama berkepanjangan dan hampir membuat saya depresi, akhirnya skripsi ini menemui akhirnya. AlhamdulillahGimana rasanya sidang tepat di hari teman-temanmu wisuda? Deg-degan sekaligus lega. Deg-degan karena takut kalau-kalau harus mengulang drama lagi dan lega karena akhirnyaaa beneran bisa lulus sebelum ketemu sama temen-temen yang wisuda di hari itu.

Dua hari menjelang sidang psikosomatis, mulai dari demam sampai maag. Tersiksa banget rasanya. Untungnya masih bisa makan, jadi kondisi badan masih oke meski badan adem panas dan perut rasanya seperti ditusuk-tusuk. Setakut itu. Segrogi itu. Nangis? Jelas. Pagi hari menjelang sidang pun masih sempet nangis, waktu ditelpon bapak & ibuk. Hiks.

Jadwal sidang jam 07.30, tapi jam 06.53 sudah sampai ruangan. Senewen ga ada abisnya. Sempet haha-hihi dengan Pak Wagiman (urusan akademik), tapi tetep aja gemeteran dan grogi ga ilang. Semakin grogi ketika sudah jam 07.20 belum ada satu dosen pun yang hadir, termasuk ibu DPS saya. Rasanya udah lemeees. Dosen penguji pertama datang, lalu dosen penguji kedua datang tepat pukul 07.30. Krik krik banget. 07.40 ibu DPS belum juga datang dan "Ga jadi sidang ya ini, Mbak?" membuat saya semakin tegang. Bodohnya, hape saya ketinggalan di tas yang saya titip ke teman di mobilnya. Otomatis gabisa berkabar dengan ibu DPS :(

07.45, "Gimana ini, Mbak? Ibu sudah dihubungi? Coba ke akademik...". Sambil menghela nafas saya berlari menuju ruang akademik, Pak Wagiman ikutan panik dan langsung mencoba menghubungi Ibu DPS. Baru juga gagang telepon diangkat, si Ibu sudah nongol di depan pintu. Huhhhh senam jantungnya udah masuk ke fase pendinginan. Berdua berlari menuju ruang sidang dan sidang dimulai.

Gimana sidangnya? HAHAHAHAHA. Penonton sidang aja ikutan tegang, gimana saya? Penguji saya kebetulan duo maut: dosen ahli psikologi pendidikan, ahli statistika, ahli psikometri, sangat senior. Beruntung sekali bukaaaan? Teori kena, metodologi kena, statistika juga kena, tapi... lucunya... "tapi kamu ini S1 ya, bukan S2".... "Oh saya lupa ini sidang skripsi, bukan tesis"... ya gitu, sidang skripsi berasa sidang tesis. "Maafkan saya bapak-bapak, ini masih skripsi, belum tesis, standarnya tolong diturunkan. Saya nggak paham sedetail itu, Prof" rengek saya dalam hati :((((

Sebenernya lucu kan ya? Lucu, iya, lucu soalnya udah lewat. Waktu itu sih rasanya udah mau pingsan aja trus pas bangun udah ikutan wisuda temen-temen di GSP wkwkwk. Ternyata saya kuat lho saat itu, kalo gaboleh dibilang ngeyel sih. Nggak tau ya jawab nggak tau, lupa ya bilang lupa trus nyontek ke naskah skripsi baru jawab lagi, kalau udah "gemes" ya "mohon maaf Prof, saya masih S1" Hahahaha. Tetep sih keluar ruangan nangis sambil dipelukin temen-temen yang dateng. Nunggu pengumumannya juga senam jantung. Hopeless. Eh, ternyata lulus. Diketawain pula gara-gara sempet nangis. Malu, tapi seneng hehehehe :DDD

2. Cerita bersama Ibu DPS
Selama mengerjakan skripsi penuh drama ini, sudah tiga kali saya dibuat nangis oleh ibu DPS karena kata-katanya yang sungguh meruntuhkan kekuatan saya menahan air mata yang jatuh. Kalimat yang membuat saya bangkit, merasa dihargai dan merasa dibela, bahwa kesalahan saya adalah: beda "aliran" dengan salah satu dosen penguji. Kalau dari awal tahu bakal diuji oleh siapa, tentu saya tidak akan "memilih aliran yang salah", kan? Hehe. Begini kalimat-kalimat beliau...
"Ibu, maaf skripsi saya masih banyak celahnya :("
"Tidak apa-apa, Novi. Justru Ibu yang harusnya minta maaf, Ibu tidak bisa membela Novi lebih jauh. Ibu pikir ini sudah kuat, di lapangan memang ditemukan masalah, sudah ada jurnal pendukungnya, bahkan ada tesis bimbingan Prof. A dengan tema serupa. Ibu sudah menyampaikan argumen yang Novi kemukakan, tapi karena beliau memiliki pandangan berbeda, beliau ahli di bidang ini, dan sudah sepuh, jadi ketika beliau tetap menyanggah, Ibu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kita mengalah saja ya. Ayo sekarang kita bekerja lebih keras. Novi siap, kan? *sambil mengepalkan tangan*"
Siapa yang nggak nangis coba dibelain mati-matian sama DPS? Beneran dibelain. Dibesarkan hatinya. Dikuatkan hatinya. Sungguh beruntung mendapatkan DPS seperti beliau :"). Lalu, suatu hari ditengah kekalutan luar biasa dan harus bimbingan, saya tetap berusaha tegar...
"Novi, Ibu bangga sama kamu. Kamu kuat. Kamu tangguh. Ibu tau ini nggak mudah, jangan nyerah ya. Seperti penelitianmu, efikasi diri dibutuhkan saat menghadapi situasi sulit. Ibu lihat efikasimu tinggi, Ibu bangga. *sambil mengacungkan jempol*"
Yang terakhir, adalah saat pengumuman hasil sidang skripsi. Siapa yang nggak terpikirkan tentang kemungkinan terburuk setelah menghadapi sidang yang sangat menegangkan dan seolah penguji tak bisa puas dengan jawaban dan argumen yang disampaikan? Ditambah saya sudah dalam keadaan sangat down dan tidak fokus ketika ibu DPS hanya bilang: "Novi diberikan waktu untuk memperbaiki catatan-catatan yang tadi di sidang sampai 16 Desember." Saya udah pasrah, lalu memikirkan kemungkinan untuk tetap bisa lulus sebelum hari ulang tahun dan melakukan proses "bargaining" tanggal sebelum ibu berangkat ke Jepang tanggal 22 November.... sampai ibu bilang:
"Lho, siapa yang nyuruh kamu sidang ulang? Kamu lulus Novi. Kamu nggak perlu sidang lagi :)))) *tertawa bahagia*
"Ibuuuuu, saya lulus? Beneran? Huahahahaha *nangis tapi ketawa*" 
Bonus, setelah foto-foto dan sebelum meninggalkan ruangan sidang, Ibu DPS memeluk saya dan berbisik: "Novi, Ibu bangga sama kamu! :)". Mau nangis lagi udah malu, tadi udah nangis kejer waktu dinyatakan lulus :p

3. Brand new age!

Happy birthday to me!

How old are you, gaes? Well, I know it's kinda privacy for several people cause sometimes it's like a very sensitive issue to be asked. It happens to me sometime. I mean being too sensitive about age. Plus, when after being asked, the person who ask saying like "OMG you're so old". Oh. Please. Shut up. Like you will be as older as me. That's my highest level of sarcasm. HA!

Menginjak umur ke-23 (ehem), rasanya semakin kecil keinginan untuk mendapatkan suprise, ucapan selamat, bahkan kue-kue dan semacamnya. Itu kue di foto dari Masaldo, kebetulan lagi ngabisin jatah cuti tahun ini jadi bisa pulang. Nggak tau juga pagi-pagi sebelum jemput buat pergi Masaldo sempet turun gunung sampe Jakal bawah buat cari kue dulu, kurang kerjaan. 

Padahal h-1 minta maaf gabisa kasih surprise atau kue-kuean (kayak biasanya ngasih aja mas wkwkwk :p) karena gabakal sempet. Iyalah Sabtu pagi sampe malem pergi sama saya, padahal baru nyampe Jogja Jumat malem. Udah kebiasa gapernah ngerayain bareng sih, jadi ya biasa aja ga dikasih surprise. Tau-tau ada paket nyampe h-1 sampai h+1 aja di kos atau di kantor aja udah bahagia :))))

Let me recall my last(?) year as 22 years-old girl. Itu lho, "I don't know about you, but I'm feeling twenty twooo~", seolah lagu wajib bagi yang mau menginjak umur ini, kayak yang akhirnyaaa bisa merasakan lagu ini beneran wkwk. Pokoknya, yang jelas, there are much things I'm grateful for.  LDR beda pulau, menjadi asisten dosen super perfeksionis dan intimidatif, supervisor praktikum kuliah, krisis pertemanan, drama skripsi, honor asisten yang tak kunjung turun, pindah kosan, temen-temen lulus duluan, temen-temen mulai meninggalkan Jogja, rebranding blog, duit abis buat penelitian dan banyak lainnya. Menantang dan membuat saya semakin kuat. Semakin mudah bersyukur. Alhamdulilah :)

4. My first graduation project

Proyek dadakan yang aslinya bantuin temen malah jadi pengalaman pertama jadi fotografer wisuda. Sejak awal belajar memakai kamera, sebenernya ga ada cita-cita untuk mengkomersialkan hobi ini. Toh ya daridulu cuma jadi fotografer event-event sekolah dan kampus doang, belajar juga otodidak, modal googling dan otak-atik sendiri tombol-tombol di kamera.

Dulu sih kepuasan saya dalam memotret adalah kalau hasil jepretan saya dijadikan profil picture facebook atau avatar twitter, sesederhana itu wkwkwk. Kalau sekarang, mungkin kalau hasil foto diupload ke instagram kali yaa? hahaha. Sebenernya periode-periode wisuda sebelumnya saya dimintai tolong untuk mengabadikan momen wisuda beberapa teman, namun saya masih terkendala skripsi jadi belum bisa melayani permintaan mereka. Baru deh periode November ini, Ayung adalah "pasien" pertama saya. Super dadakan, untung ada satu hari yang cocok dan alhamdulilah cuaca bagus.

Kesimpulan saya saat melakukan proyek ini adalah, ternyata, jadi model itu susah, pantes bayarannya mahal wkwkwk. Terus, saya menjadi merasa cupu karena ga pinter mengarahkan gaya. Ya, sendirinya juga kalau difoto gayanya itu-itu aja, jadi kalau disuruh ngarahin gaya, takut yang difoto ga nyaman. Jadi ya biasanya saya sih senyamannya orang yang difoto aja. Saya mah ngikut ajaaah. Nanti kalau udah banyak pengalaman juga pinter sendiri :p

5. Rencana liburan!
Akhirnya! Beneran bisa merencanakan liburan. Iya, baru merencanakan aja udah bahagia gini. Seolah mendapatkan angin segar setelah drama skripsi berkepanjangan. Lelahnya butuh disembuhkan dengan main-main. Kemana? Hmmm rahasia, nanti kalau udah terealisasi akan saya ceritakan di sini. Jadi, bagaimana November kalian? Menantang? Menyenangkan? Melegakan? Share yuk :D

Actually I'm not into make up, at all, bahkan saya sendiri jarang banget make up-an (kalau ga boleh dibilang gabisa belum telaten make up) hehe. Meskipun begitu, saya masih selalu membawa make up pouch di dalam tas saya kemana pun saya pergi. Ya, meskipun gabisa make up tapi tetep dong gamau keliatan kucel kalo lagi pergi. Minimal ga pucet atau muka ga minyakan deh, biar yang liat juga ga senep. Isinya nggak banyak kok, nothing so fancy for me. These are my must-have make up for daily:


Oh ya, sebelumnya kalau kalian bertanya-tanya kenapa kata make up saya kasih tanda kurung adalah karena sebenernya ga semua yang saya bawa di sini adalah alat make up, lebih ke barang-barang yang musti dibawa demi kelangsungan hidup saya, hehe. Oke, ini penjabaran tentang apa-apa aja yang ada di dalam make up pouch saya:

1. Oil Control Film
My must-have item! If I must go with only one beauty-related thing inside my bag, this product will be my choice. Kulit saya cenderung memproduksi banyak minyak beberapa jam setelah mandi atau cuci muka, that's why I need this magic paper/film to make my face shine-free. Ya, kan meskipun mau touch-up make up, terutama bedak, wajah harus bebas minyak dulu kan biar nggak failed dan lebih mudah mengaplikasikannya.

Ga ada alasan khusus kenapa memilih merk Clean & Clear. Suka aja sama warnanya yang biru hehe. Pernah coba merk yang lebih murah dan lebih mahal, tapi tiap mau beli yang ada pasti merk ini, merk lain suka nggak pasti ada di toko-toko tempat biasa saya belanja bulanan. Selain itu juga karena Clean & Clear belum pernah mengecewakan, selalu puas begitu menempelkan paper/film ke area hidung. Langsung bebas kilap.


(+) Keunggulan


  • Harga terjangkau, ga lebih dari 25rb dengan isi 60 lembar
  • Warnanya bagus, birunya keren
  • Kemasan nggak mudah rusak/koyak
  • Hemat -- tergantung pemakaian sih, kalau saya sih satu lembar cukup untuk seluruh muka.
  • Ampuh menyerap minyak-minyak di wajah, ada sensasi makin lembut di wajah
(-) Kelemahan
  • Kadang, kalau terburu-buru mengambil, yang keluar ga cuma selembar
  • Susah dimasukkan kembali kalau udah terlanjur keluar dari kemasan

2. Lip Balm
Yang sudah kenal Oriflame pastinya tahu dengan produk andalan dan legendari yang satu ini. Iya, Tender Care Protecting Balm. Produk pelembab satu ini sudah menjadi favorit banyak orang, termasuk saya karena manfaatnya banyak sekali. Mulai dari melembabkan bibir sampai merawat daerah kulit yang sensitif seperti daerah mata, juga beberapa daerah yang memerlukan perawatan ekstra seperti daerah lutut dan siku tangan yang menghitam karena kekeringan.

Saya memakai tender care ini sudah sejak SMA awal, dikenalkan oleh seorang teman yang "jualan" produk Oriflame. Sejak itu saya terus repurchase, selain penasaran dengan varian-varian lain yang ada juga karena selama ini sudah cocok. Pernah coba produk lain, tapi terlalu lengket dan membuat tidak nyaman di bibir. Poin plus lainnya adalah tender care ini bisa digunakan untuk menghapus make up di bibir.

(+) Keunggulan

  • Bentuknya mungil, praktis dibawa kemana-mana
  • Teksturnya lembut dan banyak varian: original (tanpa aroma), rose, cherry, vailla, chocolate (favorit saya!), coconut, dan caramel.
  • Bisa dipakai untuk menghapus lipstick matte
  • Nggak menimbulkan efek lengket di bibir
  • Halal! Karena terbuat dari beeswax dan minyak sayur 

(-) Kelemahan
  • Kurang higienis karena harus diambil menggunakan ujung jari, jadi pastikan jari-jari bersih dulu sebelum mengambil tender care dan diusahakan jangan sharing ke temen hehe
  • Ribet kalau harus pakai spatula, kalau saya sih pasti udah ketlingsut duluan spatulanya :p

3. Travel Powder Case + Loose Powder
Travel powder case unbranded ini berisi Wardah Everyday Luminous Face Powder yang nomor 01 - Light Beige. Dapet beli murah di Mirota Kampus, cuma 8ribuan. Meskipun murah tapi ga murahan kok. Puff-nya enak, empuk, lebih enak dari bawaan Wardah malahan. Puteran(?) tutupnya kenceng, ga gampang tumpah. Cuma, lubang-lubangnya kegedean jadi suka banyak banget yang keluar dan nempel di puff. Sayang warnanya waktu saya beli ga ada yang biru huhu tapi gapapadeh pink-nya bagus kok, bukan pink alay kayak yang biasa dijual di toko-toko aksesoris di mall hehe.

Nah, kenapa saya bawa loose powder instead of compact powder yang lebih praktis dibawa-bawa karena ga ngeri tumpah dan ga harus cari wadah baru? Alasannya adalah sampai saat ini saya belum menemukan compact powder yang cocok dengan kulit saya. Sejak puber, kulit wajah saya jadi rentan dan berpori besar di bagian tertentu, jadi sering banget komedoan dan muncul jerawat-jerawat kecil, semakin parah kalau "ditutup" dengan bedak padat.

Setelah cari tau dari beauty adviser dan beberapa review di blog emang bedak padat lebih rentan menimbulkan jerawat karena formulanya beda, jadi disarankan untuk memakai bedak tabur yang lebih ringan kandungan minyaknya. Dan benar saja, komedo di wajah saya ga sebanyak sebelum kenal bedak tabur. Hasilnya juga lebih halus dibandingkan dengan bedak padat dengan merk dan shade yang sama.


(+) Keunggulan Wardah Everyday Luminous Face Powder -- Light Beige

  • Halal!
  • Bedaknya agak wangi, tapi tidak menyengat
  • Friendly di kulit saya, ringan, dan tidak menimbulkan jerawat atau memperparah komedo
  • Murah, ada refillnya

(-) Kelemahan Wardah Everyday Luminous Face Powder -- Light Beige

  • Staying power 3-4 jam, rata-rata loose powder daya tahannya lebih singkat dibanding compact powder

4. Cermin
Nah, karena kemasan loose powder pada umumnya tidak menyertakan cermin, jadi saya harus usaha sendiri biar tetep bisa ngaca kalau mau touch up. Cermin ini saya beli di toko aksesoris terkenal yang biasa buka di mall. Harganya sekitar 15ribu. Saya pilih cermin ini selain karena warnanya yang biru juga karena desain penutupnya yang simple. Kebanyakan yang dijual di toko itu bergambar yang girly banget, saya nggak suka. Saya beruntung karena saat itu cuma tinggal ini satu-satunya cermin dengan desain tutup yang minimalis (tanpa gambar).


Saya pernah naksir cermin lipat yang dijual oleh Gramedia. Suuuuuuper lucu. Tapi harganya juga bikin ketawa, 65ribu hanya untuk cermin lipat. Nggak, saya nggak sanggup. Bedak saya aja ga sampai segitu kok. Mehhhh...tapi kalo mau ada yang ngasih gratis saya ga nolak kok, ada kemarin yang warna biru dengan aksen pink. Lucu banget, kayak tampilan blog ini. #kodekeras

5. Baby Powder
Alasan utama saya bawa baby powder ini sebenernya nggak penting karena sebenernya saya udah bawa loose powder. Tapi dengan saya bawa ini seringnya saya malah mengntungkan teman-teman saya yang butuh, untuk mengurangi kelepekan rambut, misalnya. Kalau buat saya sendiri sih ini buat alternatif kalau lagi malas bedakan atau masih mau pergi tapi udah kelanjur sore, biasanya sekalian buat wewangian nutupin bau matahari. Aplikasinya juga gampang, gaperlu cermin, tinggal tuang ke tangan langsung diusap ke wajah, beres.

Kalau lagi suuuper hectic juga bedak bayi ini membantu mengembalikan mood. Wanginya kalem banget. Bikin senyum-senyum kayak mau nyium bayi :3 Nanti coba deh saya buatkan satu post sendiri membahas gunanya baby powder secara lebih rinci.


6. Lip creme
Dulu saya nggak suka pakai pewarna bibir, apalagi yang efeknya glossy. Trauma, pernah diejekin abis-abisan, dikira abis makan gorengan kalau pakai pewarna bibir sama cowok-cowok rese. Jahat banget memang. Ejekan ini udah lumrah sih sebenernya, tapi sayanya aja yang lebay trus jadi nggak pede kalau mau pake pewarna bibir, dulu kan juga belum begitu banyak merk yang mengeluarkan produk matte.

Sejak menginjak kuliah semester empat, sekitar dua tahun yang lalu, terutama 2013 akhir saya jadi mulai sadar akan kebutuhan untuk tampil cantik: tidak pucat. Saya punya seabrek lipstik warna-warna gonjreng, dari pink sampai merah bold. Lipstik matte pertama saya adalah NYX SMLC shade Antwerp. Iya, saya punya lho lip creme yang super hits dan selalu sold-out itu.

Namun, semenjak kepulangan saya dari KKN di Sabang, NAD satu tahun lalu yang membuat kulit saya sangat menggelap, saya jadi nggak pede untuk memakai pewarna bibir yang berwarna lagi. Itu lho, jadi kayak banci yang suka nongkrong di deket SMA saya dulu. Ga masuk banget di kulit saya. Saya jadi lebih suka pakai lipstik warna-warna netral, cenderung nude. Tersisalah dua lipcreme yang selalu saya pakai: L.A. Girls Matte Pigment Gloss shade Fleur & Colourpop Ultra Matte Liquid Lipstik shade Instigator.

L.A. Girls Matte Pigment Gloss shade Fleur
Saya beli satu tahun lalu, pas habis pulang KKN banget. Demi terlihat tidak pucat kalau bibir tidak diwarna tapi juga tidak mau terlihat seperti banci, belilah saya lipcreme ini setelah nyobain punya temen. Kalau kata orang-orang lipcreme ini bikin kering dan lengket, ajaibnya di saya enggak loh. Pernah sih ngerasa lengket karena sebelumnya saya pakai lip balm, tapi kalo nggak pake malah enak, ga bikin bibir kering juga sih di saya.

(+) Keunggulan
  • Super long lasting. I was able to wear the colour for 8 hours without re-applying, padahal saya sempat makan dan minum.
  • Pigmentasinya oke banget. Sekali swatch udah langsung mengcover warna asli bibir
  • Nggak begitu mahal kalau dibandingkan dengan merk lain yang rata-rata di atas 90ribu

(-) Kelemahan
  • belum pasti halal, masih di area abu-abu menurut cruelty-free brand list. :(
  • Super long lasting. Meskipun hal ini merupakan keunggulan, tapi lipcreme ini susah sekali dihapus. I recommend using an oil based product like vaselin or eye & lips make up remover and let it sit for a few minutes. Saya lebih suka pakai vaselin sih daripada eye & lips make up remover karena justru membuat bibir saya kering :(

Colourpop Ultra Matte Liquid Lipstik shade Instigator
Colourpop is one of the most hyped liquid lipstick brands in the market. Colourpop menawarkan kualitas yang bagus dengan harga terjangkau. I love peachy nude lipstick, hence, I got Instigator. Sebelumnya saya sudah punya shade Bumble dan cukup puas dengan merk ini, cuma mau cari warna yang agak netral. Ya, meskipun lebih terang dibanding ekspektasi saya, tapi nggak membuat wajah saya kusam kayak banci wkwkwk


(+) Keunggulan
  • Halal! Yuhuuuu~~~
  • Extremely pigmented, sekali usap beres sudah.
  • Good longevity. It stays on for around 8-10 hours without the need to re-apply. However, it starts to fade from the center of the lips if you tend to eat oily meals.
  • Harga masih terjangkau, meski lebih mahal dibanding L.A. Girls


(-) Kelemahan
  • Terlalu cepat kering, jadi kalau ada kesalahan saat apply, beresinnya PR banget
  • Once the liquid lipstick dries, it has a powdery feel to it dan membuat saya sedikit tidak nyaman.
  • Masih transfer meskipun sedikit

7Baby Cologne
Ga cuma baby powder, nyatanya juga sampai saat ini saya masih pakai baby cologne sebagai wewangian badan. Saya bukan fans produk pengharum semacam parfum gitu sih, makanya saya masih bertahan pakai baby cologne, sejak SMP. Biar lebih mudah memakainya, saya pindahkan cologne ke botol spray, jadi kalau mau pakai tinggal semprot-semprot. Saya pakai Johnson's warna pink. Baunya bayi banget.

8. Minyak Telon
Iya, saya beneran bawa minyak telon kemana-mana. Saya adalah tipe orang yang gampang masuk angin dan gampang kedinginan, jadi wajib banget ada minyak-minyak begini di tas. Apalagi waktu jaman sering naik gunung, saya sampai bawa tiga di perlengkapan pribadi dan satu nebeng di kotak P3K tim. Tiga ini saya pisah per-tas karena saya kalau pendakian suka bawa 2-3 tas (carrier -- 60-80L, backpack kecil -- 20L, dan tas slempang kecil), kalau operasional biasa ya 1 tas (carrier -- 60-80L) aja cukup.

Selain itu, saya juga rentan terhadap gigitan nyamuk. Entahlah, dari sekian banyak orang yang ada, selalu saya yang jadi sasaran utama si nyamuk. Bahkan ketika lagi nongkrong cantik di cafe ala-ala gitu. Ya emang sih milih di lokasi yang outdoor, tapi kan tetep aja ya cafe masa digigit nyamuk. Hiks. Pernah saya iseng survey golongan darah, biasanya cuma saya sendiri yang golongan darah A, jadi bikin kesimpulan sendiri nyamuk paling suka darah dari golongan A huft (jangan percaya!).

Makanya, selain untuk penghangat badan, minyak telon ini sekaligus jadi anti nyamuk. Dulu sebelum nemu Konicare Minyak Telon Plus, di pouch saya juga ada obat nyamuk sasetan, hehe. Kebayang kan gimana ribetnya harus nyobek kemasan obat nyamuk sasetan dan bungkus lagi kalau sisa banyak setelah dipake. Kalau langsung dibuang kan sayang u,u


Yes, kira-kira itu isi dari make-up pouch saya yang nggak heboh, seadanya dan mungkin beda dari orang-orang pada umumnya hahaha. At least cukup untuk bikin wajah kelihatan segar dan proper, serta ga ribet kalau ada "kebutuhan" mendadak. Kalau isi make-up puch kamu apa aja? Jangan-jangan ada yang bawa minyak telon juga kayak saya hehe. Share di sini yuuuk :D

Photo Source: The Halal Times
Sejak sadar untuk mulai merawat kulit, saat itu pula saya memutuskan untuk beralih hanya menggunakan kosmetik dan skincare halal. Kenapa? Sebagai seorang muslim, kehalalan suatu produk merupakan hal yang patut dipertimbangkan dalam kehidupannya. Dulunya sih, saya berpikir bahwa "halal" itu hanya untuk sesuatu yang dikonsumsi (makanan dan minuman).Tapi, suatu hari ketika saya sedang surfing dan menemukan sebuah ulasan tentang pentingnya menggunakan produk kosmetik yang halal. Sejak itu pula saya mulai mempertimbangkan untuk memilih dan menggunakan produk kosmetik yang sudah halal.

Hal ini juga saya sadari ketika saya sedang sibuk mengurusi sebuah kegiatan tahunan yang rutin diikuti ekstrakurikuler saya di SMA. Saya memang bukan peserta, tapi saya semacam tim sukses gitu, jadi saya terlibat dalam setiap persiapan yang dilakukan. Oh ya, kegiatan ini bernama PDT singkatan dari Pengembaraan Desember Tradisonal, kegiatan yang setiap tahun diadakan oleh Pramuka Kwarcab Kota Yogyakarta. Bentuk kegiatannya adalah dengan long march yang biasanya dilaksanakan mulai tanggal 26-29 Desember menelusuri rute-rute yang telah ditentukan dan bermalam di basecamp yang telah disediakan.

Sebagai ABG, obrolan tentang bekal kosmetik tentu tidak dapat dihindari dari para peserta perempuan. Bekal paling penting adalah tabir surya atau sunblock, namanya juga selama empat hari melakukan perjalanan, nggak mau dong ya kalau pulang-pulang gosong, ya walaupun tetep gosong sih, tapi kan kulit tetep terlindungi. "Eh, pake punyaku aja, aku udah dibeliin ibu yang kemasan besar. Udah halal lho, jadi aman buat sholat!", ujar teman saya yang lebih dulu "kenal" dengan berbagai macam dan merk kosmetik. Lalu obrolan dilanjutkan dengan keuntungan dan kelebihan memakai produk kosmetik halal, terlebih bagi kami yang mayoritas muslim.

Dari ulasan blog dan obrolan tersebut, saya menyimpulkan bahwa the basic and obvious reason is karena saya sadar kalau sholat harus suci dari najis. As simple and  as complicated as that. Logika sederhana menurut saya adalah karena semua produk kosmetik itu didesain untuk menempel atau menyerap, bukan dibilas --dihilangkan dengan air. Beda dengan sabun mandi atau shampoo yang memang didesain untuk dibilas, tanpa meninggalkan bekas di kulit, jadi saya lebih santai meskipun prefer pakai yang sudah halal juga sih. Dan, justru sabun dan shampoo memang berfungsi untuk membersihkan kotoran yang menempel di debu, kan?

Pada saat saya mulai mempertimbangkan untuk menggunakan kosmetik halal adalah sebuah keharusan, saya memiliki pemikiran bahwa skincare yang baik didesain untuk bisa menyerap ke dalam lapisan kulit. Nah kalau sudah menyerap artinya tidak bisa hilang meski sudah dibilas dengan air atau mandi kan? Kalau hilang dengan mandi ya apa gunanya pakai skincare hehehe. Coba bayangkan bagaimana kalau skincare yang kita gunakan untuk merawat kulit justru merupakan barang najis dan menjadikan sholat kita tidak sah tanpa kita sadari? Udah wudhu berkali-kali tapi tetap najis, ya karena memang khasiat skincare yang dipakai sudah terlanjut meresap, tidak bisa hilang hanya dengan berwudhu saja. Hiiii~ Naudzubillahimindzalik....

Beda lagi dengan make up yang didesain untuk hanya menempel dan stay di kulit. Meskipun tidak sampai meresap seperti skincare, make up yang menempel pun tidak semudah itu juga terhapus dengan berwudhu. Semakin bagus make up, semakin tahan lama, kan? Coba deh cermati di review-review dari para beauty guru, maskara, eyeliner, dan pensil alis yang luntur setelah berwudhu pasti diberikan penilaian yang kurang baik. Penilaian "tetap stay meski sudah dipakai wudhu" dijadikan poin tambahan kan? Nahlo.

Saya sendiri sih belum sesering itu memakai alas bedak, hanya di occasion tertentu macam kondangan saja biasanya. Hari-hari saya langsung memakai bedak tabur setelah menggunakan pelembab, beda dengan kebanyakan perempuan yang saya tahu yang sering memakai bb cream, cc cream, foundation, you name it lah dalam kesehariannya. Oh, ya, sunscreen juga. Alas bedak ini apakah setelah wudhu jadi bersih? Like literally bersih? Nggak, jelas enggak. Bahkan untuk bisa bersih secara sempurna tidak cukup hanya menggunakan sabun muka lho. Makanya ada produk yang bernama make up remover, cleanser dalam bentuk minyak, susu ataupun balm, atau yang lagi digandrungi sekarang adalah micellar water.

Jadi, apakah kamu sudah yakin telah tersucikan hanya dengan berwudhu setelah menggunakan produk-produk itu? Dan jangan lupa juga, skin care dan make up kita pakai dengan sadar, kita sendiri yang dengan sengaja mengaplikasikannya ke kulit. Bukan tidak-sengaja-terkena seperti najis lain misal kotoran hewan. We choose to put those products on our skin, so why don't we choos the halal ones? 

Setelah itu muncul pertanyaan, kosmetik yang halal itu yang gimana sih? Susah-susah gampang sih sebenernya buat tahu produk yang kita pakai halal atau enggak. Paling mudah adalah produk lokal (buatan Indonesia) yaitu dengan mencari yang sudah dilabeli halal oleh MUI, contohnya Wardah dan kawannya, Sariayu, Viva,  Zoya, Garnier, Purbasari, Fanbo, Marcks, Vitalis, Marina, dan lain-lain, bisa cek sendiri di web LPPOM MUI.

Ohya, untuk beberapa kosmetik yang belum ada sertifikasi halal dari MUI atau sudah berlabel namun tidak tercantum lagi di daftar terbaru MUI, saya perlu berhati-hati dengan mengenali produsen produk tersebut. Misal Mustika Ratu, Inez, La Tulipe meskipun diproduksi oleh produsen yang terpercaya, namun pada saat saya akses web MUI beberapa bulan lalu tidak ada di daftar. Prasangka baik saya mengatakan hal ini bisa jadi dikarenakan masa berlaku sertifikat sudah habis atau sedang dalam proses perpanjangan. Nah untuk kasus ini bisa dicek langsung ke website resminya yang biasanya sudah menyediakan FAQ, atau kalau tidak ada bisa bertanya lewat e-mail yang tercantum di website tersebut. Iya, saya prefer mengirim e-mail dibanding menanyakan lewat media sosial (instagram, twitter, facebook), lebih puas dan lebih yakin karena menurut saya yang membalas e-mail pasti bukanlah sembarang admin.

Untuk produsen yang sudah lama dan dikenal saja perlu berhati-hati dan berkala mengecek status halalnya, apalagi dengan produk-produk baru yang saat ini muncul di pasaran. Saya memang konservatif sekali untuk urusan ini, karena saya pribadi kurang percaya dengan produsen yang baru saja berdiri karena bahaya laten abal-abal. Apalagi, tren yang ada sekarang adalah banyaknya produk yang ingredients dan klaim saja tidak sama bisa mendapatkan izin edar dari BPOM, lalu diendorse oleh banyak selebgram atau seleb beneran yang belum tentu paham (dan jelas nggak pake beneran) skincare itu. Ngeri kan? Ngeri kan? Trus, banyak pula sekarang yang jualan krim dari dokter, dokternya siapa juga ga jelas. Saya heran, produk beginian laris di pasaran. Dampak pesatnya perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan perkembangan mental. Sad life.

Secara umum, definisi produk yang memenuhi syarat halal sesuai syariat Islam adalah yang tidak mengandung babi dan bahan yang berasal dari babi; semua bahan yang berasal dari hewan harus dari hewan halal yang disembelih menurut tata cara syariat Islam; tidak mengandung khamr dan produk turunannya; serta tidak mengandung bahan lain yang diharamkan atau tergolong najis seperti bangkai, darah, dsb. Makanya, untuk produk import, saya memilih produk kosmetik yang vegan atau vegetarian untuk amannya. Kedua jenis produk ini menghindari kandungan hewani yang selama ini jadi tersangka atas halal atau tidaknya suatu produk. Selain itu, label vegan di luar negeri memang menjadi tambahan nilai jual dari suatu produk, jadi pasti lebih mudah ditemukan penjelasannya dari brand tersebut.

Saya juga belajar bedanya cruelty free and vegan cosmetics. Beda lho ya, cruelty free bukan berarti bebas dari kandungan hewani. Boleh tanya google sendiri untuk lebih banyak referensi. Di sini saya mencoba menyimpulkan dari beberapa bacaan dari google juga, bahwa:
Cruelty free cosmetics -- adalah kosmetik yang tidak melakukan animal testing atau tidak melakukan percobaan pada hewan. Jadi cruelty free belum tentu tidak mengandung unsur hewani.
Vegan cosmetics -- adalah produk kosmetik yang tidak menggunakan bahan yang berasal dari hewan sama sekali, sama sekali.
Vegetarian cosmetics -- adalah produk kosmetik yang hampir sama seperti vegan cosmetics, bedanya adalah produk ini masih menggunakan unsur hewani seperti madu, beeswax dan bahan lain yang sepanjang pengetahuan saya tidak diharamkan oleh Islam.
Beberapa produk luar negeri yang kebetulan saya pakai dan saya tahu merupakan produk vegan/vegetarian adalah:
  • Colourpop --hampir semua produk adalah vegan
  • E.L.F -- hampir semua produk adalah vegan
  • Hada Labo -- ada di FAQ website resmi
  • NYX
  • Pixi -- beberapa produk adalah vegan
  • The Body Shop -- ada di website resmi yang menyatakan halal dan vegetarian
  • The Balm
  • Wet n' Wild -- hampir semua produk adalah vegan

Merk lain bisa cek sendiri di cruelty-free brand list, vegan lifestyle guide, atau cruelty-free kitty. Agak sedih sih sebenernya ada beberapa produk yang saya punya yang ternyata masuk ke dalam area abu-abu atau bahkan tidak termasuk ke dalam list vegan/vegetarian cosmetics di web tersebut. Untungnya saya belum koleksi terlalu banyak merk, jadi ya sebenernya nggak sedih-sedih banget. Cuma lebih berhati-hati aja besok kalau mau beli-beli kosmetik lagi Balik lagi, we choose to put those products on our skin, so why don't we choos the halal ones? Bismillahirahmanirrahim....

Saya bukanlah ahli haram atau halal,bukan juga perempuan ahli agama. Saya hanyalah perempuan muslim biasa yang sedang berusaha memberikan opini tentang ketertarikan saya untuk selalu memakai produk yang halal di kehidupan sehari-hari. Semoga istiqomah dan semoga bermanfaat :)

Happy Halloween! Thank God, It's Monday!

Memasuki akhir bulan Oktober, seperti dua bulan lalu saya mewajibkan diri saya sendiri untuk mengulas satu bulan ini saya ngapain aja. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan untuk mengevaluasi sudah sejauh mana saya berkembang dan mendekati goals tahun ini. Selain itu juga untuk mensyukuri apa-apa saja yang bisa saya lakukan dan bisa saya dapatkan dalam kurun satu bulan. Posting bulan lalu sengaja saya taruh lagi di draft, suatu saat akan saya publish kembali. Semoga saya "berani" hehe :p

Here's my October's Roundup:

1. I can stand on my own!
Ya, setelah drama bulan September lalu, saya jatuh berkali-kali. Sungguh berkali-kali. Susah payah saya berjuang untuk bisa berdiri lagi, namun nyatanya semesta tidak sebaik itu untuk mendukung. Banyak manusia yang karena ketidaktahuannya tidak sengaja menyenggol pondasi yang sudah sekuat tenaga saya bangun. Iya, saya selemah itu, saat itu. 

Suara-suara tidak enak entah bagaimana caranya selalu bisa saya dengar dan sukses membuat saya mengurung diri satu minggu full. Selama satu minggu itu saya menyadari bahwa kualitas hidup saya tidak normal, sedikit lagi mungkin saja saya depresi, mungkin. Seluruh akses ke dunia luar terutama media sosial saya matikan. Beruntung selama satu minggu itu listrik di rumah terkena gangguan selama tiga kali, jadi no electricity means no wifi, no wifi means no virtual life hahaha.

Satu minggu ini saya berkontemplasi dengan diri sendiri. Merenung, mengevaluasi, menguatkan diri sendiri. Menangis sampai tidur dan tidur sambil menangis saya alami. Seisi rumah pun sudah maklum, kalau tidak bisa dikatakan kebingungan bagaimana harus "menguatkan" saya. Meski juga sering saya dengar dari kamar bapak telpon ibuk menanyakan kabar saya, atau sebaliknya ibuk menelpon bapak laporan kalau saya sudah keluar kamar untuk makan, mandi, atau sholat.

Setiap hari dalam satu minggu itu saya memiliki pikiran untuk seek for profesional help, saking saya takutnya ga bisa self-help. Tapi juga saya memiliki ketakutan bahwa saya akan dicap "sakit mental" atau stigma lain yang melekat jika seseorang mengunjungi psikolog (ya, saya sendiri mahasiswa psikologi, tapi nyatanya saya punya ketakutan itu. Atau justru karena saya mahasiswa psikologi? hmm). Begitu. Tapi pada akhirnya saya tetap memilih untuk self-help. Berhasil? Alhamdulillah :)

Hari Minggu, 9 Oktober 2016 saya bertekad: SUDAH! Terus meratap ternyata capek juga ya. Saya juga toh tidak bisa kembali ke masalalu untuk memperbaiki keputusan itu. Tapi saya punya hari esok, saya bisa memperjuangkannya sebagai tanggung jawab atas keputusan yang dijatuhkan pada waktu yang lalu. Masa bodoh dengan omongan orang, mereka toh hanya penonton, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jadi buat apa diambil pusing?

Saya sudah "puas" mengurung diri. Tiba saatnya untuk bangkit lagi, untuk yang kesekian kalinya. Bedanya, pondasi yang saya susun setelah hari Minggu itu sudah lebih kuat, tak lagi roboh hanya dengan tiupan gosip, atau bahkan tendangan langsung dari para penonton yang tidak suka melihat saya sudah bisa berdiri lagi. Senyum dan tawa yang keluar dari bibir tak lagi palsu, tak lagi hanya sebagai citra bahwa "saya baik-baik saja" demi tidak terlihat lemah dan semakin mudah dijatuhkan penonton.

Senin, 10 Oktober 2016 adalah hari pembuktian bahwa saya sudah benar-benar bisa berdiri lagi dengan kaki saya sendiri. Langkah demi langkah saya tapaki, bertemu lagi dengan orang-orang, tanpa rasa minder yang mendominasi. Ya, jujur saya masih minder, bahkan sampai sekarang pun. Tapi sejah hari itu saya tidak mau lagi "memenangkan" perasaan negatif dalam diri saya. Saya merasa menang dalam perlawanan dengan diri saya sendiri ini dan saya bangga! Seperti yang orang-orang bilang: positive vibes only! :D

2. I'm surrounded by the love of Allah!
Saya bersyukur, di tengah keterpurukan saya bulan ini tidak menjadikan saya lupa dengan Allah Yang Maha Berkehendak. Saya pernah melewati masa dimana saya sedikit atheis, tidak mengakui keberadaan Tuhan, karena menganggap Tuhan tidak adil dengan memberikan cobaan untuk saya seberat ini. Tuhan tidak adil ketika orang lain yang bahkan karyanya tidak lebih baik dari saya diberikan kelancaran, kemudahan, dan saya menyaksikan sendiri proses pembantaian itu. Sungguh Tuhan, ini tidak adil.

Bersyukur fase itu hanya berlangsung sangat sebentar, sebentar sekali, setelah itu saya merasakan bahwa saya justru beruntung mendapatkan ujian ini, sekarang. Artinya, sebentar lagi saya akan "naik kelas". Di samping itu saya juga sadar bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan melebih kemampuan hambanya dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, bukan?

Allah tentu tidak pernah memberikan ujian kepada hamba-Nya jika Ia tidak mengetahui batas kemampuan hamba tersebut. Ya, Allah itu Maha Tahu akan segala ciptaan-Nya, baik itu yang ukurannya besar maupun yang terkecil sekalipun. Tidak satupun dari semua itu yang luput dari pandangan dan rencana-Nya. Tidak pernah sekalipun rencanya-Nya meleset dari tujuan awalnya. Tidak. Begitupun saya sebagai manusia. Allah lebih tahu akan kemampuan dan kapasitas saya sebagai makhluk ciptaan-Nya dibanding diri saya sendiri.

Jadi, kenapa saya harus merasa bahwa saya tidak sanggup melaksanakan sesuatu? Ada Allah tempat saya dapat bergantung dan mengadu. Mengapa saya harus merasa begitu terpuruk dan sedih saat saya tidak mencapai apa yang saya inginkan? Ada Allah yang dapat menghibur dan melapangkan hati saya. Mengapa saya harus merasa sendiri dan marah jika saya mendapat tugas dan amanah yang banyak? Ada Allah yang lebih mengetahui kapasitas dan kemampuan saya dalam menyelesaikan dan mengerjakan sesuatu. Ya, bukankah Allah selalu ada untuk saya? Alhamdulilahirabbil'alamin :)

3. I (still) have friends and (normal) social live!
Saya semakin menyadari bahwa perasaan negatif selalu bersumber dari prasangka yang ada dalam diri sendiri sejah drama ini menimpa saya. Prasangka inilah yang membuat saya selalu mencari-cari pembenaran akan prasangka tersebut. Hal yang tadinya biasa-biasa saja, bisa jadi bukti bahwa prasangka ini benar, dan membuat saya semakin menarik diri dari dunia sosial. Prasangka bahwa tidak ada orang yang peduli dengan saya, prasangka bahwa teman-teman menjauhi saya, prasangka bahwa saya tidak lagi sebaik itu di lingkungan sosial. 

Meski untuk beberapa kasus ada benarnya untuk orang-orang "tertentu" yang kekeuh tidak mau tahu (haters gona hate, right?), prasangka ini ternyata salah. Salah besar karena saya tidak berusaha meraih pertolongan yang diberikan oleh lingkungan karena saya terlalu takut untuk membuka diri. Saya takut untuk terlihat lemah dan sangat butuh bantuan orang lain untuk bisa bangkit lagi. Saya terlalu fokus terlihat kuat di hadapan orang-orang "tertentu" sehingga saya sedikit mengabaikan  dan tidak sengaja menolak orang-orang yang benar-benar peduli dengan saya yang berusaha mengulurkan tangannya dengan sukarela. Sorry. My bad :(

The psychology of friendship is complicated, and the feeling of companionship doesn't all come from the other person. I have to be willing to "let people in" -- ask for help when I'm down, confide my secrets, be willing to be embarrassed together, go through difficult times side by side. Have I made the effort to let a few people really know me, warts and all? Someone told me that once you have people like that in your life, you never lose them, even if you move away and don't talk for a year at a time. Pick up the phone or email one of them any time you feel that the world is just too impersonal and nobody really cares. We all feel that way sometimes.

Setelah saya menyadari bahwa saya harus let people in, pondasi saya justru semakin kuat setelahnya. Semakin banyak orang-orang yang benar-benar peduli menghampiri saya, baik yang hanya sekedar memberi semangat untuk menguatkan, menawarkan bantuan, bahkan bersedia menjadi one-call-away companion. Saya sungguh teraharu. Saya justru merasa bersalah ketika mereka malah memaklumi saya yang belum siap menerima bantuan dari orang lain, mereka memahami bahwa saya memang perlu waktu untuk sendiri, sampai akhirnya saya siap menerima bantuan. Orang-orang ini, setelah saya baca ulang chat-nya, menyelipkan kata-kata I know you need some times to figure out what you're gonna do. I'll support whatever decisions you made. Just tell me when you're ready dengan bahasanya masing-masing. Dan mereka benar-benar tidak meninggalkan saya :)

Kehidupan sosial saya juga normal. Citra buruk itu benar-benar hanya ada di dalam pikiran saya saja. Saya hanya takut jika orang-orang menilai saya buruk, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu apa sih yang sebenarnya terjadi? Hmmm saya sendiri belum berani bercerita soal ini, yang jelas, saya cukup tenang banyak teman saya yang baik hati yang membantu meluruskan isu-isu tidak benar yang kadang menyebar. Alhamdulilah yaa Allah saya dikelilingi orang-orang baik ini.

Orang-orang baik yang mendengar kabar versi tidak benar juga Alhamdulilah langsung mengklarifikasi ke orang-orang terdekat saya. Tak jarang juga saya heran orang-orang ini kenapa tiap ketemu saya langsung memberikan pelukan dan sapaan hangat. 
"Aku tau Nop ini nggak mudah, tapi aku yakin kamu bisa. Semangat ya!"
"Dari sekian banyak orang, aku tau kenapa kamu yang dipilih Allah buat dapet pelajaran ini, kamu kuat banget Nop!"
"Nop, sumpah, kamu kuat banget. Aku ga yakin aku bakal sekuat kamu kalo aku ada di posisimu sekarang."
"Enop, semangat ya!"
"Enop, aku percaya kabar yang aku dengar itu ga bener, makanya aku tanya xxxx. Enop sekarang gausah mikirin hal yang lain, gausah dipikirin itu omongan orang. Yang penting Enop semangat!"
dan semacamnya. Alhamdulilah. Alhamdulilah. Alhamdulilah.
"Surround yourself with people who make you happy. People who make you laugh, who help you when you're in need. People who genuinely care. They are the ones worth keeping in your life. Everyone else is just passing through." -- Karl Marx
No, I'm not lucky. Yes, I'm blessed. 

Custom Post Signature

Custom Post  Signature